Hari ini tanggal 26 Oktober 2009

Hari ini tanggal 26 Oktober 2009

Photos by Ade Darmawan
UJUNG KULON ADVENTURE TEAM 2009
A Trip To Legon Kadam, Northern Panaitan Island, Ujung Kulon National Park, Banten, Indonesia
By Ade Darmawan
MInggu, 24 Mei 2009
KEPULANGAN DARI PULAU PANAITAN MENUJU KELAPA GADING
07.45 – 10.20 Legon Kadam ke Pelabuhan Sumur
10.20 – 11.30 Bongkar barang dari perahu ke Pelabuhan Sumur karena kandas
12.30 – 18.00 Kota Kecamatan Sumur – Kelapa Gading
Ada kedatangan dan pasti ada kepulangan. Saya bangun pagi di hari minggu ini jam 05.00, mandi atau tepatnya cuci muka, kaki dan tangan dengan air setengah asin, kemudian bergegas menjauh dari base camp untuk membuat lubang defekasi (panggilan alam) mbak Niniek sih menamakannya potatoes planting, entah potato jenis apa yang kita tanam. Hahahaha. Mencari lokasi yang cocok di belakang pohon tumbang, kemudian menggali lubang dangkal sedalam 20-30 cm dengan diameter yang cukup 30 cm untuk BAB. (hihihi).
Pagi hari ini air pasang lebih tinggi daripada hari sabtu pagi kemarin. Terlihat dari lokasi kamar mandi yang lama di muara Sungai Cikadam yang terendam. Air pasang sampai 10 meter dari jarak surut terjauh.
Kami sarapan dengan menu nasi, mie instan dan telor ceplok yang amat lezat dengan menatap pantai yang ombaknya berjarak hanya 20 meter dari kami. Kemudian membongkar semua perlengkapan perkemahan kita. Acara bongkar membongkar dimulai pada pukul 06.45
Kami pulang jam 07.45 semua sudah naik ke atas dua Kapal Motor nelayan yang masing-masing panjangnya 20 meter. 1 kapal namanya kapal Abadi Jaya yang dinakhodai oleh Pak Emis, bermesin Mitsubishi 6 tak baru. Kalau yang punya Pak Komar mesin 4 tak lama. Jadi terasa benar ngebutnya.
Menatap terakhir kali untuk tahun ini Pulau Panaitan, sedih sekali,r asanya belum lama mendaratkan kaki ke sana, huhuhuhuhu, Sedih hatiku sedih. (lihat gambar panorama yang paling atas).
Perjalanan pulang dihibur oleh burung camar. Eh ternyata di atas Kapal Pak Emis dan crew sudah memasakkan ikan dan nasi untuk kita sarapan kedua. Wuihh lezat sekali deh. Lupa deh sama gatal-gatal di kaki dan di tanganku.
Makan siang yang lezat sekali,s emuanya pada makan rame-rame. Dah ga ada yang ngomong lagi deh. Hehehe
Jam 10.20 kami pun sudah bisa melihat pelabuhan Kota Sumur (gambar bawah tengah). Akhirnya kami berhasil sampai kembali menginjakkan kaki di tanah Jawa (tepatnya di propinsi Banten, Indonesia). (gambar bawah kanan). Kami beruntung karena dalam hitungan beberapa puluh menit kemudian semua kapal pengangkut kecil dari kapal motor ke pelabuhan sudah tidak bisa lagi merapat karena air menyurut.
Alhamdulillah kita pun membereskan barang dan membersihkan diri, ada juga yang makan lagi. Hehehe dasar. Tapi kok tidak ada tempat pembelian souvenir ya di sekitar sini. Hehehe. Ga ada kenang-kenangannya jadinya selain fotro-foto dan bekas bentol, hehehe.
CATATAN RUTE PULANG


12.30 Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sumur – Kec. Cimanggu – Pasar Kec. Cibaliung – Sukajadi – Desa Mendung – Kec. Labuan – Kec. Cigeulis – Kec. Citapis – Jalan Raya Tanjung Lesung (kanan) – Panimbang (Resort Karibea Krakatau – Kharisma Beach Hotel – Linzabama Villa) – Terminal Labuan (yang ada Mercu Suar) lewat dikit ada proyek pembetonan jalan di Depan Proyek PLTB – Kec Pagelaran – Situ Cikedal – Desa Cipicung Kec. Cikedal, Al Banteni Menes
15.00, Pasar Menes, Kec. Cisata, Jln Raya Pandeglang – Labuan, Sindanghayu (sebelah kiri ada gunung apa ya) – Camat Saketi – SD Kadudampit – Kec. Cimanuk – Palanyar, Pasar Cipeucang, Curug barang
15.30 Kec. Cimanuk, Pasar Mengger, Camat Kaduhejo, Bumi Pandeglang Indah Estate – RSU Berkah Pandeglang, Cikoneng, – Kampung Cipacung (ada lampu merah perempatan) – Ke arah Serang – Pandeglang Kota – Hotel Pandeglang Raya – Alun-alun Kota Pandeglang
Masyarakat Pandeglang
Orang-orang masyarakat di daerah Pandeglang Kecamatan Cimanggu sedang menjemur cengkeh, mengangkut kayu, buah kelapa, melinjo dan aren.
15.50 – Kantor Bupati Pandeglang – Batas Kota Pandeglang
15.56 – Kec. Cadasari – Resto Duren Pandeglang
16.04 – Baros – Jln Raya Serang Pandeglang – Serang Kota (perempatan Anyer)
16.11 – PT Agama Banten – Puskesmas Banten Girang – Balai Besar Pelatihan Kerja Serang – Putaran Kanan – kebon Jahe Serang. – Jalan Abdul Hadi. Warung Pojok Serang – Jalan Fatah Hasan – SMA 2 Serang
16.21 – Belok Kanan Taman K3 – Jln. Jenderal Soedirman Serang – Pom Bensin
16.30 – Rel Kereta – RS Sumber Asih Serang – Tol Merak Jakarta
16.35 – Pintu Gerbang Serang Timur – Gerbang Tol Cikupa 17.09 (Rp11.500,-), Gerbang Tol Karang Tengah
17.23, Gerbang Tol Tomang
17.31, Tol Dalam Kota (Rp5.500), Tol Cempaka Putih 17.45, Kelapa Gading Kayu Putih 18.00.
YANG HARUS DILAKUKAN SETELAH PULANG DARI UJUNG KULON
Mandi Sabun Antiseptik (Dettol)
Minum Obat Cacing
Luluran
Minum CTM (Guatel kulit rek)
Mengupload foto dan mengisi blog deh
Tapi yang pasti juga beresin dan mencuci perlengkapan, seperti tenda, pelampung (life jacket), piring, gelas, mesin kapal motor, dll biar ga rusak dimakan garam.
AKNOWLEDGEMENT
Terima kasih kepada Allah SWT, keluargaku, dr. Hans Mansjoer, SpPD beserta keluarga, Mas Rizki Isnawtiar, keluarga Buaya Muara hehehe, Mas Ali Mustahal, seluruh rekan-rekan Ujung Kulon Adventure Team, Rangers Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, Indonesia. Semoga Allah memberkahi aktivitas hidupmu. Amin
UJUNG KULON ADVENTURE TEAM 2009
A Trip To Legon Kadam, Northern Panaitan Island, Ujung Kulon National Park
Indonesia
By Ade Darmawan
Sabtu, 23 Mei 2009
Ringkasan
- Bangun kesiangan 06.10
- Cari kerang
- Cari ikan
- Ke Sungai Citaleunan sama Ayat, Enang dan mas Tommy 09.30. dapat gabus
- Pindahkan kamar mandi ke dalam Sungai Cikadam
- Menikmati beautiful sunset
HARI SABTU ADALAH PENGALAMAN YANG LUAR BIASA.
Pagi hari seperti biasa, sayangnya Bangun kesiangan 06.10 Ya Alloh, Ya Robbi, Kelewatan Subuh deh. Bangun kesiangan karena tidur baru bisa pada pukul 22.00. bangun jam 06.10 padahal sejak 05.00 sudah terdengar suara Bang Ayat dan Kapten Buaya membangunkan para campers (anggota team) yang terlelap di alam yang begitu sempurna. Suara bang Ayat sanggup membuat seisi hutan bangun pada pagi buta.
Panggilan alam seperi biasa, pagi-pagi BAB, saya mencari lokasi pembongkaran (ada aja istilahnya) yang tepat sambil menenteng gayung dan ember berisi air tawar, serta tisu.
Kita gali lubang dangkal sekitar 20-30 cm kemudian acara pembongkaran bisa kita mulai. Lokasi yang tepat untuk BAB adalah sebaiknya cari lokasi 300-500 meter menjauh dari Basecamp. Jangan dekat-dekat basecamp tapi jangan jauh-jauh juga. Berabe nanti. Jangan di jalur jalan, usahakan di dekat semak dan jangan di tempat pendaratan (pantai). Baunya dan bangkainya, hehehe, bisa kemana-mana.dipilih jarak tersebut agar kalau ada bau-bau tidak sedap jangan sampai mengganggu selera makan dan tidur kita. Yang pasti sebelum jongkok pastikan lingkungan kita aman dari hewan-hewan, terutama ular, buat yang laki-laki kan gak mau saingan dong. Nanti ular panaitan naksir ular kita kan jadi danger. Hehe.
Kalau urusan sudah kelar tidak lupa untuk menutup lubang bekas pembongkaran kita dengan tanah humus, kemudian pasir, lalu daun-daunan dan kayu-kayu kering di paling atas. Agar nanti kalau ada rekan satu basecamp mencari lokasi juga kalaupun terinjak tidak sampai nempel di alas kakinya, wiii, bisa trauma deh.
Bayangkan kalau ada 35 anggota team dan mereka BAB 1x aja sehari berarti ada 70 titik pembongkaran kan selama dua hari, hehehehe. Jadi sebaiknya pakai cara seperti itu.
OK. Masalah BAB sudah kelar. Now bisa cerita pengalaman yang luar biasa tersebut. Pernah ga sih teman-teman dikeroyok sama puluhan atau ratusan ikan alu-alu. Pasti ngebayanginnya aja juga gak pernah kali ya (gelap deh). Ini kerjaannya 3 bersaudara Kapten Buaya, Ayat dan Enang. Mereka menjaring ikan di pinggir pantai dan kami membantu jika mereka sudah mengurung ikan dengan jaring mereka. Nah waktu ikan-ikan itu sudah merasa terkurung maka yang terjadi adalah mereka beterbangan dan menabrak-nabrak ke segala arah bahkan ada yang terbang juga. Dengan injakan kaki atau jepitan dengkul dalam atau dengan ketek kita saja ikan tersebut dapat kita tangkap. Kebayang kan melimpahnya alam Indonesiaku tercinta, lala bo. Nah di sinilah terjadi keroyokan ikan tersebut. Ada yang beterbangan ke muka orang yang sedang memegang jaring. Ciprok, cipruk, cipruk, ciprok bunyi ikan alu-alu yang menampar permukaan air saat selesai melompat-lompat. Sebenarnya ikan alu-alu itu yang mana aku juga belum begitu faham. Pas aku tanya sama nelayan yang mengantarkan kami, ikan yang mirip ikan julung-julung panjang juga dibilang alu-alu, anh ikan yang mirip bandeng tapi lebih besar dan panjang dibilang alu-alu juga. Binun deh. Hehehe.
Hasil tangkapan hari sabtu lumayanlah, cukup atau malah lebih untuk satu team makan siang dan malam hari ini. Oh ya waktu pagi hari Bang Ayat dan Bang Enang dapat lobster masiy hidup yang beratnya hampir 1 kg (kali, ga da yang bawa timbangan soalnya) sama ikan terbang (yang jadi logo TV Indosiar itu lho). Itu semua hasil memasang jaring di Muara Sungai Citaleunan pada malam harinya.
Kata nelayan-nelayan di situ, di sungai Citaleunan itu ada penghuninya, yaitu buaya muara atau mungkin bukan buaya tapi besar sekali makhluknya yang tinggal dalam sungai tersebut. Kalau boss Ayat menamakannya Buaya Caymand.
MUARA SUNGAI CITALEUNAN
Aku sebenarnya sejak hari Jumat sore sudah ingin ke Muara Citaleunan karena aku tahu itu seperti sebuah muara sungai yang indah tapi karena belum tahu seluk beluknya tidak berani jalan sendirian. Apalagi di muara tersebut terlihat burung bangau hitam yang sedang mencari makan. Di muara tersebut terlihat Burung bangau hitam mencari ikan. Burung tersebut cukup besar juga lebih besar dari Ayam Jago dewasa. Karena kemarin teman-teman sebagian menangkap ikan di dekat muaranya tapi tidak ada yang ke ujung muaranya. Tidak ada yang ke sana. Jadi aku takut.
Jadi beruntung bangat aku pas Bang Ayat dan Bang Enang ke muara tersebut. Kita pun diajak. Mula-mula ngeri juga sih menerjunkan diri ke dalam sungai tersebut karena kita tidak tahu apa saja makhluk yang tinggal di dalamnya.
Sebagian sudah kami foto kegiatan tersebut. Nah di situ kayaknya baru pertama kali tuh aku melihat begitu dekat hutan bakau perawan. Tapi tak seperti aku bayangkan kepiting-kepiting itu tidak tampak banyak di luar akar bakau. Mereka semua ada di dalam lubangnya yang banyak. Kata Bang Enang namanya kepiting wideung.
HUTAN BAKAU
Akar-akar bakau yang khas juga aku baru tahu bahwa akar yang menghadap ke atas tersebut tidak keras tapi lembut, bener-bener seperti akar pohon perdu, walaupun dari jauh seperti ranting-ranting yang tajam ternyata pas dipegang lembut. Dasar sungai bukanlah lumpur tapi batu dan pasir kasar, sedikit berbeda dengan pinggir pantai. Di pinggirnya ada tanah kecoklatan seperti lumpur tapi ternyata bukan lumpur tapi tanah keras berwarna kecoklatan sisa proses dekomposisi produk dari hutan. Ikan julung-julung besar, gabus dan mungkin gurame tinggal di dalam sungai tersebut. (yang kelihatan lho). Namun untuk menangkapnya agak sulit. Padahal yang dicari di situ adalah ikan kakap, mungkin karena makanan yang melimpah sehingga ikan kakap yang dicari aman dari dari jaring karena tidak usah jauh-jauh dan cape-cape mencari makan keluar dari lubang sudah dapat makanan.
Di sungai tersebut dapat ikan gabus muara. Awalnya kaget juga karena aku seperti ditabrak-tabrak sesuatu yang licin-licin dan besar, ternyata eh ternyata itu adalah ikan gabus. Bang Enang pun dengan muka dingin menangkapnya.
Perjalanan ke dalam aliran Sungai Citaleunan tersebut tidaklah terlalu jauh mungkin hanya 250-300 meter saja ke dalam (dari bibir pantai) tapi sudah memberi banyak point sendiri bagi diriku untuk lebih mencintai lagi Indonesiaku yang cantik. Aku yang lahir dan besar di Ibukota Jakarta tahunya hanya sesuatu yang sudah dirusak dan dihancurkan saja. Dengan mengunjungi Ujung Kulon aku tahu kekuatan dan kecantikan alam yang sesungguhnya. Alhamdulillah. Subhanallah.
Selesai dari muara sungai kita pun kembali lewat darat menuju basecamp. Makan dululah kita sarapan sambil menikmati pemandangan Pantai Legon Kadam yang luar biasa dan alunan simfoni debur ombak yang membius.
Pokoknya di sini pemandangannya tidak ada yang jelek. Yang ada adalah pemandangan yang indah dan luar biasa indah.
Nah aku siangnya dapat tugas mengambil kerang-kerang pantai untuk direbus dijadikan menu makan siang. Warnanya biru dan kulit luarnya coklat gitu. Ukurannya 5-7 cm. Jadi bisa kelihatan kalau kita gali pasir pantai sedalam 3-5 cm. kalau ada ombak yang cukup kuat biasanya kerangnya kelihatan dan berusaha mengubur kembali badannya dengan menyemprotkan air sehingga badannya terdorong ke dalam benaman pasir pantai yang putih. Nah kita tangkap deh. Diajarin sama nelayan cara mencarinya. Nelayan itu sih enak aja pakai kaki telanjang membongkar pasir tapi kalau kita ikutin waduh pada lecet2 dan perij kena karang2 yang tersimpan di bawah pasir. Sejam mencari di bawah terik matahari pantai dapat juga walaupun hanya 15 ekor. Aduh capek deh.
TREKKING 2 KM

Nah waktu cari kerang itu aku lihat rekan-rekan berjalan meninggalkan basecamp menuju barat daya. Jumlahnya total ada 17 orang dipimpin langsung oleh Ketua Panitia, Mas Rizki Isnawtiar. Berjalan tengah hari mulai 11.30 – 13.30. Oh ini rombongan mau trekking ya. Ya udah dasar hobi jalan dan melihat-lihat alam bersama-sama (kalau sendiri takuuu…ut), aku dengan hanya memakai celana pendek, kaos oblong dan sendal jepit tanpa makanan dan minuman ikut nimbrung, jadi peserta trekking di dalamnya.
Berbeda dengan rute-rute cibom, ciramea, Cibom Tanjung layar, Ciramea ke Shanghyang Sirah. Rute di Legon Kadam masuk menuju hutan perawannya belom ada treknya. Di Pulau Panaitan sendiri kata para ranger, Ranger Nana, hanya ada dua track yang biasa dijelajahi, yaitu track ke Gunung Raksa, yang bisa ditempuh lebih kurang 2 jam mendaki gunung untuk melihat Arca Shiwa, artefak peninggalan agama Hindu. Satu lagi adalah track dari Pos Penjagaan Ranger Ujung Kulon di Legon Butun menuju pantai Legon Bajo di Bagian Utara lengan kiri (Left Side) Pulau Panaitan, lebih kurang jarak tempuh 3-4 jam perjalanan santai. Untuk yang pertama dari Legon Butun (Pos Ranger) harus naik kapal laut dulu sekitar 30 menit menuju Tanjung Citambuyung lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menapaki gunung raksa. Nanti dekat puncaknya kita bisa melihat arca Shiwa di sana. Patung ini menunjukkan adanya kehidupan sejak lama di Pulau Panaitan.
Nah itu jalur yang sudah ada di Pulau Panaitan, sementara di Bagian Utara sepertinya belum ada track semacam itu. Nah di sini kita mulai membuka track baru. Pada saat jalan dimulai pada siang jam 11.00 maka pantai terasa sekali panasnya, maka teman-teman lebih suka kalau kita lewat dalam hutan saja. Awalnya sih lancar-lancar dan gampang-gampang saja menerobos hutan tapi makin lama makin bingung. Apalagi ketika ketemu dengan bukit miring. Tentu akan timbul risiko kalau dilanjutkan. Berangkat bikin track baru dan pulangnya kita membuat track baru lagi. Hehehe. Tapi tidak masalah. Nyasar-nyasar dikit. Akhirnya diputuskan lewat pantai aja yang waktu itu mulai surut. Wah meskipun panas tapi pemandangan yang luar biasa dengan hutan alami dan pantai yang indah, penuh dengan ikan-ikan hias kecil yang cantik berwarna-warni membuat kami melupakan panas.
IKAN HIAS TERJEBAK DI KARANG
Di karang-karang itu, ikan-ikan kecil terjebak karena air surut sehingga membentuk kolam-kolam kecil berair amat jernih. Nah kita bisa menikmati pemandangannya deh seperti membawa aquarium ke sana. Tiap kali melihat kolam tersebut aku baru keingatan untuk membawa jaring untuk menangkap ikan-ikan tersebut. Setidaknya untuk dimasukkan ke dalam plastik besar sebagai aquarium sementara yang bisa dinikmati selagi di basecamp. Kalau sudah mau pulang ya kita lepas lagi ke pantai.
Ingat Leave nothing but footprints, Take nothing but pictures agar keindahan Ujung Kulon lestari dan bisa dinikmati anak cucu kita.
Ternyata air surut itu membuat kita bebas berjalan di pantainya. Aduh jadi teringat perjalanan ke Sang Hyang Sirah tiga tahun yang lalu (Mei 2006: bertepatan dengan gempa bumi Yogya). Isi hutan di Pulau Panaitan mirip-mirip dengan hutan di daratan Ujung Kulon. Hanya bedanya di sini hewannya sangat sedikit. Tapi di sini ada Kijang yang gampang sekali dilihat. Yang sempat aku temui di sini adalah biawak, kijang, tupai, bangau hitam, camar laut, monyet kecil dan ular. Biawak sendiri sangat sedikit yang kelihatan. Kalau di Pantai Ciramea sampai Pantai Kelapa Bereum jejak biawak banyak sekali di pasir pantai di sini saya baru ketemu satu saja. Itu pun ngumpet di belakang base camp. Sementara tupai demikian bebas dan banyak di Pulau Panaitan, melompat ke sana kemari memakan buah nyamplung. Sepertinya tidak ada predatornya.
Buah nyamplung bentuknya seperti vuah jarak, sedangkan pohonnya seperti pohon jamblang besar baik kulit maupun bentuk daunnya. Buahnya biasa dimakan tupai dan daun serta tunas Pohon nyamplung menjadi makanan lezat bagi Kijang.
UJUNG KULON ADVENTURE TEAM 2009
A Trip To Legon Kadam, Northern Panaitan Island
By Ade Darmawan
Jumat 22 Mei 2009
Foto by Jon Simon 2009
Mobil yang ikut ke Sumur, Pandeglang, Banten (menuju pulau Panaitan) :
Jakarta
Jumat Dinihari
Perjalanan Menuju Sumur
Berangkat dari Jalan Pasir Putih Kelapa Gading
Lewat Jalan Tol Dalam Kota. Trus belok kiri ke Tol Tangerang Merak
Exit Serang Timur. Ternyata jalannya berubah. Sedikit binun, hehe, tapi kemudian bisa diatasi, sekalian ada yang numpang pipiz, ih duazar. Truz perjalanan eksotis deh di luar jalan tol yang menjemukan, jalan ke arah Kota Serang, Pandeglang, sampai ke kota Sumur.
Dinihari, saat hari belum mau bergerak, Ujung Kulon Adventure Team 2009 mulai bergerak
01.25 -07.25 Kelapa gading sampai di Pelabuhan Sumur. Iring-iringan 9 mobil. Berhenti sesaat untuk salat Subuh untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi ke Sumur
07.25 – 08.45 Makan, sarapan, ngopi, cuci muka, toilet dan lain2
08.45 – 11.00 Sumur – Pos Penjagaan Nyawaan, Legon Butun, Pulau Panaitan: Lapor ke Pos
Keadaan Cuaca
Angin relatif tidak kencang, ombak juga tidak tinggi, ideal banget untuk jalan. Alhamdulillah. Terima kasih ya Alloh. Padahal di prakiraan cuaca minggu ini diberitahu bahwa angin di Selat Sunda sedang besar sehingga membuat gelombang mencapai 2 meter. Untunglah kita tidak menemukannya
11.00 – 12.30 Makan siang di atas perahu dekat dermaga Pos Penjagaan Nyawaan
12.30 – 14.30 Pos Penjagaan Nyawaan sampai ke Legon Kadam
15.00 Bongkar dan pasang barang-barang. Dirikan tenda , kamar mandi, pasang dan nyalakan Genset, buat jaringan listrik + lampu, jaringan air, dapur, hamparkan tempat leha2.
Jaring ikan untuk makan malam. Ikan terbang-terbangan
Berenang sampai magrib
Menikmati sunset pertama di Pulau Panaitan
Makan malam
Cari udang untuk mancing: tapi aku ga ikut mancing
Malam perkenalan dan games.
Nyanyi-nyanyi
22.00 Tidur
UJUNG KULON ADVENTURE TEAM 2009
A Trip To Legon Kadam, Northern Panaitan Island
Ujung Kulon National Park, Banten, Indonesia
By Ade Darmawan
20-an April 2009
SMS dari Mas Rizki Isnawtiar
Mas Ade Pa Kabar? Mau ikut lagi ga ke Ujung Kulon tanggal 21-24 Mei 2009.
Dapet SMS gini wuih senangnya. Hehehe.
Okeh. Bahkan istri serta teman-teman kantor juga diajak, walaupun akhirnya semua ga ada yang jadi ikut.
Minggu, 17 Mei 2009
Kegiatan persiapan di Kelapa Gading, Basecamp. Rapihkan dan tes perlengkapan apakah berfungsi atau tidak, apakah rusak atau tidak. Kapal motor, genset, kamar mandi, perlengkapan, makanan, minuman, senter, jaring, pelampung orange = ada yang sudah lapuk dan ada yang tidak bisa dibuka lagi retsleitingnya. Cek tenda dan kelengkapannya, jangan sampai salah bawa, yang rusak ke bawa ke sana. Berabe. Bisa tidur di hotel seribu bintang tanpa tenda, wiiiii ga mau.
Berita Perjalanan Kelapa Gading, Jakarta Utara - Pulau Panaitan
Kamis, 21 Mei 2009
Kamis sore, hari Libur,

sunset di pulau panaitan
jam 15.00 hujan di seluruh Jakarta Depok. Jadi aku batal sore-sore mau ke sana.
Sampai Kelapa Gading rumah dr. Hans jadi malam jam 21.00.
Sudah banyak rekan-rekan sesama peserta yang datang..
Sambil menunggu mobil dan rekan yang lain, kami membereskan barang-barang, mengatur penempatan, dan memasukkannya ke dalam kontainer2. Nunggu teman yang berbelanja sayuran, buah, ikan dan bahan makanan lain untuk dimasukkan dalam cooler Igloo ukurannya mungkin 100-150 liter kali yah. Gede bangetz n berat, ada dua lagi, emang luar biasa lengkap nih peralatan dr. Hans.
Kepala Suku agak kesal dan memeriksa peserta yang ternyata berkurang sampai 10 orang dari data terakhir minggu lalu. Banyak yang batal di hari-H dan komitmen peserta untuk membantu persiapan dinilai kurang oleh Kepala Suku, jadi wajar Kepala Suku senewen, hehehehe. Yang salah kita-kita juga.
Sambil menunggu, para peserta tidur-tidur ayam di emperan rumah dokter Hans, ada yang ngumpul di Taman sambil dikeroyok nyamuk Kelapa gading.
UJUNG KULON ADVENTURE TEAM
A Trip To Legon Kadam, Northern Panaitan Island, Ujung Kulon National Park, Banten, Indonesia
Panaitan – Sang Perawan
By Ade Darmawan
Aku punya hutang kepada Panaitan yang cantik
Sang perawan yang begitu ramah,
Laguna nan berkilauan tempat mandi para bidadari
Laguna yang memberikan begitu melimpah
Jernih
Penuh makhluk warna warni
Biru laut, biru langit
Suaramu mengirim deburan dalam hati
Diam, gelap, kesunyian dan makhluk misterimu ciutkan nyali
Panaitan yang tenang
Aku akan sampaikan ke semua orang
Agar hutangku terbayar
Hitam bening matamu
Tentang lesung pipitmu, merah bibirmu
Hangat pelukan malammu
Manis tak terlupakan senyumanmu
Panaitan yang kukagumi
Sungaimu berisi batu dan pasir kasar, bakau membatasi
Tiada lumpur
Jutaan bintang di langit bening
Hiasi malam-malam indah Panaitan
Deburan ombak, gesek daun, suara hutan
Orkestra lagu pantai
Di sini, hanya indah dan sangat indah
Sungguh
Tak terlupakan
Beri arti bagi hidup indahku yang cuma sekali
Ntar mau bikin tulisan deh
Yang banyak
Yang Lengkap
Yang menarik
Tapi nanti
Not now
Bukan Sekarang dan tidak janji pula
Aloha masih belum buat tulisan lagi nieh, teman-teman sabar yah. Maklum masiey sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangga yang baru.
Ai si yu leter deh
Bye
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!